“STUNTING BUKAN HANYA SOAL PENDEK: Saatnya Tenaga Kesehatan Bangun dari Tidur Panjang!”
“STUNTING BUKAN HANYA SOAL PENDEK: Saatnya Tenaga Kesehatan Bangun dari Tidur Panjang!”
Oleh: Bayu Ahli Gizi
"Pengetahuan yang keliru di kalangan tenaga kesehatan adalah luka pertama bagi masa depan anak Indonesia."
Pendahuluan: Kenapa Masih Banyak yang Salah Kaprah?
Ironis, ketika negara sedang gencar menurunkan angka stunting, justru di lapangan banyak tenaga kesehatan—termasuk yang bekerja di fasilitas kesehatan tingkat pertama—masih rancu dalam definisi, cara ukur, hingga penanganan stunting. Banyak yang masih menyamakan stunting dengan "anak yang tampak kurus", atau lebih parah lagi, menyebut anak stunting hanya karena "berat badannya di bawah garis merah".
Salah besar! Dan jika kita, para tenaga kesehatan sendiri, belum paham, maka jangan salahkan masyarakat jika mereka abai. Kita yang seharusnya menjadi pilar edukasi, justru membuat fondasi itu retak karena informasi yang keliru.
Stunting: Definisi Ilmiah yang Sering Dilupakan
Menurut WHO (2020), stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Indikatornya?
➡️ Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) < -2 SD berdasarkan kurva WHO.
👉 Bukan berat badan.
👉 Bukan dilihat dari tampilan fisik saja.
👉 Dan jelas bukan diagnosa asal-asalan karena anak "kelihatan kecil".
Kenapa Harus TB/U dan Bukan Berat Badan?
Karena berat badan hanya menggambarkan status gizi saat ini. Tapi tinggi badan menggambarkan riwayat nutrisi masa lalu—inilah kenapa stunting bersifat kronis.
❗ Anak dengan berat badan ideal bisa tetap mengalami stunting jika tinggi badannya tidak sesuai usia!
Fakta Pedas di Lapangan
🔴 Banyak Kader dan Nakes Masih Salah Ukur
Kita bicara soal akurasi, tapi alat ukur masih pakai meteran baju dan anak ditidurkan di ubin puskesmas. Bagaimana bisa mendapatkan hasil valid?
🔴 Banyak yang Tidak Paham SD (Standar Deviasi)
Sebagian tenaga kesehatan bahkan tidak bisa membaca kurva WHO. Padahal ini dasar!
🔴 Dokter Spesialis Anak?
Pemeriksaan stunting bukan berarti semua kasus harus langsung dirujuk ke dokter spesialis anak.
👉 Untuk deteksi dini atau screening jangka pendek, cukup dilakukan oleh tenaga terlatih seperti ahli gizi, berpengalaman menggunakan standar WHO dan alat antropometri yang valid.
👉 Namun, untuk kasus dengan komplikasi atau dugaan stunting berat, rujukan ke dokter spesialis anak sangat penting untuk penilaian lebih lanjut dan tatalaksana medis jangka panjang.
🔴 Rapat Stunting, Ahli Gizi Malah Tak Diundang!
Inilah ironi terbesar!
Dalam banyak rapat koordinasi stunting, tenaga gizi yang seharusnya berada di garis depan justru tidak dilibatkan. Yang diundang justru aparatur atau petugas yang tidak memiliki latar belakang teknis gizi. Bahkan ada yang mengatur strategi penanganan gizi tanpa tahu beda TB/U dan BB/U.
"Bagaimana bisa kita bicara solusi gizi, kalau ahlinya tidak diundang ke meja diskusi?"
Hal ini tidak hanya membuat kecewa, tetapi juga menyakiti martabat profesi gizi. Kami bukan figuran. Kami adalah garda ilmiah dalam penanganan masalah gizi dan tumbuh kembang.
Data Nyata yang Tidak Bisa Dibantah
Menurut SSGI 2022, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 21,6%. Namun, hasil ini sangat bergantung pada validitas pengukuran antropometri. Jika nakes di lapangan masih salah paham, maka angka ini bisa jauh dari kenyataan.
"Salah ukur, salah data. Salah data, salah kebijakan. Salah kebijakan, masa depan bangsa dipertaruhkan."
Dampak Salah Diagnosa: Serius dan Tidak Termaafkan
-
Anak stunting tidak tertangani → gizi buruk terselubung.
-
Anak normal dianggap stunting → intervensi salah sasaran.
-
Orang tua bingung, kepercayaan pada tenaga kesehatan turun.
Apa Solusinya? Bangun atau Ditinggalkan!
✅ Pelatihan Antropometri Ulang untuk Semua Nakes
Standar WHO, bukan sekadar kebiasaan lokal.
✅ Gunakan Alat Ukur Valid dan Terstandar
Stadiometer, length board, bukan "feeling meter".
✅ Pemanfaatan Aplikasi E-PPGBM dengan Benar
Jangan cuma diisi asal, tapi pahami grafiknya!
✅ Audit Data Rutin dan Supervisi Nyata
Monitoring bukan formalitas, tapi sebagai koreksi nyata.
✅ Libatkan Tenaga Gizi dalam Semua Forum Gizi dan Stunting
Stunting bukan urusan semua orang secara asal. Tapi urusan bersama yang tetap harus dipimpin oleh yang paham substansi. Jangan lagi abaikan tenaga gizi!
Penutup: Jangan Malu Belajar, Malulah Kalau Tidak Mau Belajar
Stunting bukan sekadar urusan tinggi badan. Ini adalah cermin dari kualitas pelayanan gizi, sanitasi, pendidikan, dan empati kita sebagai bangsa. Jika kita, para nakes dan ahli gizi, masih gagal memahami akar masalah dan salah dalam cara ukur, maka kita turut menjadi bagian dari kejahatan sistemik terhadap masa depan generasi Indonesia.
“Stunting bisa dicegah, tapi kesombongan dalam profesi bisa membuat upaya itu sia-sia.”
Referensi Ilmiah:
-
WHO. (2020). Child Growth Standards.
-
Kemenkes RI. (2022). Survei Status Gizi Indonesia (SSGI).
-
UNICEF. (2021). Improving Child Nutrition.
-
Standar Antropometri Anak Indonesia – Kemenkes, 2020.
-
Gizi Indonesia, Vol 43(2), 2021: Validitas Pengukuran Panjang Badan Balita oleh Kader Posyandu.
.png)
Komentar