Sudut Pandang Ahli Gizi, Terkait MBG

Sudut Pandang Ahli Gizi, Terkait MBG (Makanan Bergizi Gratis)

Perkenalkan saya Bayu, seorang ahli gizi di puskesmas yang sehari-hari mendampingi masyarakat dalam upaya perbaikan gizi, khususnya pada ibu dan anak. Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi sudut pandang terkait program Makanan Bergizi Gratis (MBG), sebuah langkah pemerintah yang diharapkan mampu menurunkan angka stunting, meningkatkan kualitas gizi anak sekolah, serta memperbaiki kesehatan masyarakat secara umum, Saya sangat mendukung program dari Pak Prabwo selaku Presiden kami.

Sebagai tenaga gizi yang terjun langsung di lapangan, saya melihat bahwa keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh tersedianya makanan bergizi, tetapi juga bagaimana makanan tersebut diolah, disimpan, dan disajikan dengan aman agar benar-benar bermanfaat bagi penerima.

Pentingnya HACCP dalam MBG

Dalam penyelenggaraan makanan massal, penerapan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) sangat diperlukan. HACCP membantu mengidentifikasi titik kritis dalam proses penyediaan makanan, mulai dari penerimaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, hingga penyajian, guna mencegah kontaminasi biologis, kimia, maupun fisik.

Contoh penerapannya di dapur MBG adalah memastikan suhu penyimpanan sesuai standar, tidak mencampur bahan mentah dan matang, serta menjaga higienitas tenaga dapur. Dengan demikian, makanan bergizi tetap aman, sehat, dan layak konsumsi.

Higiene dan Sanitasi Makanan

Menurut jurnal Food Safety Management (FAO, 2021), higiene dan sanitasi adalah dasar keamanan pangan. Higiene meliputi kebersihan petugas dapur, peralatan masak, dan lingkungan, sedangkan sanitasi mencakup sistem pembersihan, desinfeksi, serta pengelolaan limbah.

Di lapangan, sering ditemui kendala seperti keterbatasan air bersih, minimnya sarana penyimpanan, dan kurangnya pemahaman petugas dapur. Hal ini bisa berdampak pada kontaminasi silang yang akhirnya mengurangi kualitas gizi maupun keamanan makanan.

SOP Dapur dalam Program MBG

Agar MBG berjalan efektif, dibutuhkan Standar Operasional Prosedur (SOP) dapur yang jelas dan konsisten, meliputi:

  1. Penerimaan Bahan Makanan

    • Periksa kesegaran, tanggal kedaluwarsa, dan kondisi kemasan.

    • Catat jumlah serta kualitas bahan yang diterima.

  2. Pemilihan & Penyimpanan

    • Simpan sayur dan buah segar dalam suhu dingin (5–10°C).

    • Pisahkan bahan mentah dan matang untuk mencegah kontaminasi.

    • Pastikan gudang bersih, kering, dan bebas hama.

  3. Pengolahan

    • Gunakan talenan & pisau terpisah untuk bahan mentah dan matang.

    • Terapkan cuci tangan pakai sabun sebelum mengolah makanan.

    • Masak dengan suhu minimal 75°C agar kuman mati.

  4. Penyajian

    • Gunakan wadah bersih dan tertutup.

    • Sajikan segera (<2 jam) atau simpan dalam suhu aman (panas >60°C, dingin <5°C).

    • Hindari kontak langsung tangan dengan makanan siap saji.

      Fakta di Lapangan: Live Streaming Tiktok Dapur SPPG

      Dalam praktiknya, saya sering menemukan kenyataan berbeda dari teori. Saat ini banyak dapur SPPG yang melakukan live streaming di TikTok ketika proses pengolahan dan pengemasan makanan. Namun, sayangnya, justru tampak ketidakpatuhan terhadap SOP higiene dan sanitasi, misalnya:

      • Karyawan hanya menggunakan satu sarung tangan, bukan dua sesuai standar.

      • Masker tidak dipakai dengan benar, hanya menutupi mulut tanpa menutup hidung.

      • Tidak menggunakan penutup kepala, sehingga risiko rambut jatuh ke makanan sangat tinggi.

      • Ada yang tetap mengenakan perhiasan seperti gelang atau cincin saat mengolah dan mengemas makanan.

      Perilaku ini bukan hanya melanggar prinsip dasar keamanan pangan, tetapi juga menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap kualitas MBG. Apalagi, semua aktivitas ini disiarkan secara langsung sehingga publik bisa melihat dengan jelas ketidaksesuaian SOP yang seharusnya dijaga dengan ketat.

Penutup

Program MBG merupakan langkah besar untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak sekolah. Namun, tanpa penerapan prinsip HACCP, higiene, sanitasi, dan SOP dapur yang ketat, program ini berisiko menghadirkan masalah baru berupa penyakit bawaan makanan.

Sebagai ahli gizi puskesmas, saya percaya bahwa peran tenaga gizi sangat penting dalam mengawasi mutu dan keamanan makanan, sehingga MBG benar-benar bisa menjadi solusi dalam membangun generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting.


Penulis : Bayu 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Trigliserida Bisa Tinggi Padahal Gula Darah, Kolesterol, dan Asam Urat Normal?

Robusta dan Arabica Kopi