Benarkah Anak Harus Minum Susu 2 Liter Sehari agar Tidak Stunting, Perlukah? Ini Kata Ahli Gizi

Benarkah Anak Harus Minum Susu 2 Liter Sehari agar Tidak Stunting, Perlukah? Ini Kata Ahli Gizi

Penulis:Mr.BayNutrisionis

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pencegahan stunting, banyak beredar informasi yang keliru. Salah satunya adalah anggapan bahwa agar anak tidak stunting, mereka harus minum susu hingga dua liter setiap hari. Padahal, pandangan ini tidak hanya keliru, tetapi juga berpotensi membahayakan jika tidak sesuai dengan kondisi anak. Mari kita telaah bersama dari kacamata ilmu gizi.

Apa Itu Stunting?

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), yaitu sejak dalam kandungan hingga usia 2 tahun. Anak yang stunting memiliki tinggi badan di bawah standar usianya dan berisiko mengalami gangguan perkembangan kognitif, produktivitas rendah saat dewasa, hingga mudah terserang penyakit.

Penyebab stunting sangat kompleks dan bukan hanya soal kurang makan atau tidak minum susu. Menurut Kementerian Kesehatan RI dan WHO, faktor penyebab stunting meliputi:

Kurangnya asupan gizi berkualitas dalam jangka panjang

Pola makan yang tidak seimbang
Infeksi berulang seperti diare dan ISPA
Sanitasi yang buruk dan air tidak bersih
Kurangnya stimulasi dan perawatan pengasuhan yang tepat


Minum Susu 2 Liter Sehari, Perlu atau Berlebihan?

Susu memang merupakan sumber gizi yang baik karena mengandung kalsium, protein, vitamin D, dan lemak. Namun, minum susu bukan satu-satunya cara mencegah stunting, dan tentu saja tidak perlu sampai dua liter sehari.

Kelebihan konsumsi susu dalam jumlah besar justru dapat memicu masalah lain seperti:

Obesitas
Sembelit, karena rendah serat

Defisiensi zat besi, karena terlalu banyak protein hewani bisa menghambat penyerapan zat besi dari makanan
Risiko alergi atau intoleransi laktosa, yang bisa menyebabkan diare, kembung, dan gangguan pencernaan
Anak yang intoleran terhadap laktosa, misalnya, akan mengalami masalah kesehatan jika dipaksakan minum susu sapi. Justru, asupan susu harus diganti dengan sumber gizi lain seperti susu nabati fortifikasi (soya, almond) atau sumber kalsium dan protein lain seperti tempe, tahu, ikan, sayur hijau, dan kacang-kacangan.
Pencegahan Stunting Harus Holistik, Bukan Sekadar Susu
Ahli gizi anak menyarankan agar pendekatan pencegahan stunting dilakukan secara menyeluruh, meliputi:

1. Asupan Makanan Bergizi Seimbang

Pastikan anak mendapat makanan dengan kandungan:
Karbohidrat (nasi, kentang, ubi)
Protein hewani dan nabati (ikan, telur, tahu, tempe)
Sayur dan buah berwarna
Lemak sehat (minyak kelapa, alpukat)


2. Pola Asuh dan Stimulasi
Anak butuh kasih sayang, stimulasi kognitif dan motorik sesuai tahap tumbuh kembang. Anak yang diasuh dengan penuh perhatian dan rangsangan tumbuh lebih baik, baik secara fisik maupun mental.

3. Kebersihan Lingkungan
Air bersih, sanitasi layak, dan cuci tangan pakai sabun bisa mencegah infeksi berulang yang jadi salah satu pemicu utama stunting.

4. Pemantauan Tumbuh Kembang Rutin
Datang ke posyandu atau puskesmas secara rutin untuk menimbang dan mengukur tinggi badan anak, agar deteksi dini bisa dilakukan bila ada gangguan tumbuh kembang.

Kesimpulan
Mencegah stunting tidak bisa disederhanakan hanya dengan memberi anak susu dalam jumlah besar. Yang dibutuhkan adalah pola hidup sehat secara menyeluruh sejak masa kehamilan, menyusui eksklusif selama 6 bulan, pemberian MP-ASI yang tepat, dan gizi seimbang sesuai usia.

Komentar