Apasih Vitamin D itu
VITAMIN D
Penulis : Yohanes Wisnu Bayu Prayogo
Definisi
Vitamin D
Menurut Almatsier
(2002) vitamin D adalah nama genetik dari dua molekul yaitu ergokalsiferol
(Vitamin D2) dan kolekalsiferol (Vitamin D3). Vitamin D dapat dibentuk
dengan bantuan sinar matahari. Jika tubuh mendapat cukup sinar matahari
konsumsi vitamin D tidak dibutuhkan karena dapat disintesis tubuh . Vitamin D
dapat dikatakan bukan vitamin tapi suatu prohormon, tetapi bila tubuh tidak
cukup mendapatkan sinar matahari vitamin D perlu dipenuhi melalui makanan.
Menurut Salim (2014) vitamin D (kolekasiferol) merupakan senyawa berwarna putih, membentuk kristal yang larut dalam minyak dan lemak tetapi tidak larut dalam air. Menurut Makayadhada (2017) vitamin D adalah salah satu jenis vitamin larut lemak pro-hormon yang juga dikenal dengan nama kalsiferol. Vitamin D terdiri dari 2 bentuk bioekuivalen, yaitu vitamin D2 dan vitamin D3. Vitamin D2 dikenal sebagai ergocalciferol, diperoleh dari makanan sumber nabati dan suplemen oral.
Menurut Salim (2014) vitamin D (kolekasiferol) merupakan senyawa berwarna putih, membentuk kristal yang larut dalam minyak dan lemak tetapi tidak larut dalam air. Menurut Makayadhada (2017) vitamin D adalah salah satu jenis vitamin larut lemak pro-hormon yang juga dikenal dengan nama kalsiferol. Vitamin D terdiri dari 2 bentuk bioekuivalen, yaitu vitamin D2 dan vitamin D3. Vitamin D2 dikenal sebagai ergocalciferol, diperoleh dari makanan sumber nabati dan suplemen oral.
Berdasarkan pengertian beberapa
sumber di atas maka dapat ditarik kesimpulan vitamin D adalah suatu jenis
vitamin larut lemak pro-hormon yang berwarna putih serta memiliki dua bentuk bioekuivalen
yaitu vitamin D2 (ergokalsiferol) dan vitamin D3 (kolekalsiferol).
Sifat-sifat
Vitamin D
Menurut Permadhi (2018) diketahui beberapa sifat
kimiawi vitamin D yaitu:
1. Tidak
tahan panas dan oksidasi
2. Diaktifkan
oleh sinar UV
3. Vitamin
D2 merupakan bentuk sintetik dari vitamin D yang dihasilkan dari iradiasi UV.
4. Vitamin
D3 merupakan hormon steroid.
Jenis-jenis
Vitamin D (Ergo kalsiferol dan 7-dehidrokolesterol kolikolaferol)
Vitamin D
merupakan nama generik dua molekul yaitu ergokalsiferol (vitamin D2) dan kolekalsiferol
(vitamin D3). Vitamin D memiliki prekusor yaitu ergosterol pada tumbuhan dan
7-dehidrokolesterol pada hewan (Mubarokah 2008). Vitamin D dibagi menjadi 2
(dua):
1.
Vitamin
D3 (Cholecalciferol)
Vitamin D3 merupakan jenis yang dibuat di kulit (International Osteoporosis Foundation
2017). Cholecalciferol merupakan
hormon steroid yang diproduksi kulit ketika terkena sinar ultraviolet atau
didapatkan dari makanan (hewan). Bentuk aktifnya 1,25-dihydroxycholecalciferol (calcitriol),
berperan penting menjaga tingkat kalsium, fosfor darah, dan mineralisasi tulang
(National Centre for Biotechnology
Information 2004).
2.
Vitamin
D2 (Ergocalciferol)
Ergocalciferol merupakan jenis vitamin D yang
berasal dari tumbuhan, perannya berkaitan dengan diet (International Osteoporosis Foundation 2017). Ergokalsiferol
memiliki kandungan prekusor atau prazat yaitu ergosterol yang berada dalam
jaringan hewan melalui iradiasi sinar ultraviolet (Sumardjo 2008).
Kekurangan
Vitamin D
Menurut Winarno
(2014) kekurangan vitamin D akan mengakibatkan gangguan penyerapan kalsium dan
fosfor pada saluran pencernaan dan gangguan mineralisasi struktur pada tulang
dan gigi. Kekurangan vitamin D yang paling rentan adalah pada bayi dan orang
tua usia lanjut (lansia). Jumlah konsumsi vitamin D yang disarankan adalah 400
IU (10 mg) per hari untuk bayi dan anak.
Penyakit yang
dialami oleh penderita kekurangan vitamin D antara lain:
a.
Ricketsia
Penyakit
ini diderita oleh anak-anak yang ditandai oleh bengkoknya kaki sehingga
berbentuk O. jika keadaan belum berlanjut maka masih dapat ditolong dengan
pemberian vitamin D dalam jumlah yang besar atau nasihat dokter yang berwenang.
b.
Tetani
Gejala
ini ditandai dengan bengkoknya pergelangan tangan dan sendi akibat rendahnya
kalsium dalam serum karena kekurangan vitamin D atau rusaknya kelenjar
paratiroid.
c.
Osteomalacia
Penyakit
ini sebagian besar diderita oleh orang dewasa, dikenal sebagai rickettsia orang dewasa. Penyakit ini
disebabkan oleh kekurangan vitamin D dan kalsium.
Kelebihan
Vitamin D
Menurut Barasi
(2007) konsumsi vitamin D dalam jumlah yang berlebihan mencapai lima kali AKG
yaitu lebih dari 25 mikrogram (1000 SI) sehari, maka akan menyebabkan
keracunan. Gejala dari kelebihan vitamin
D ini adalah kelebihan absorpsi vitamin D yang pada akhirnya menyebabkan
kalsifikasi berlebihan pada tulang dan jaringan tubuh seperti ginjal,
paru-paru, dan organ ubuh lain. Tanda-tanda khas akibat kelebihan vitamin D
adalah akibat hiperkalsemua seperti lemah, sakit kepala, nafsu makan berkurang,
diare, muntah-muntah, gangguan mental, dan pengeluaran urine yang berlebihan.
Pada bayi yang diberi vitamin D yang berlebihan akan menunjukkan gangguan
saluran cerna, rapuhnya tulang, gangguan pertumbuhan, dan keterlambatan
perkembangan mental.
Sumber
Vitamin D
Vitamin D
bersumber dari cahaya matahari yang bergantung pada waktu dalam sehari, tempat
tinggal, dan warna kulit. Vitamin D juga
diperoleh dari makanan dan sumplemen. Sumber makanannya terbatas diantaranya:
minyak ikan seperti salmon, sarden, makarel, dan telur. Dibeberapa negara
terdapat makanan yang terfortifikasi seperti margarin dan cereal (International Osteoporosis Foundation
2017).
Cahaya
Matahari
Banyak orang yang memiliki
ketidakcukupan vitamin D, diantaranya terdapat dua sebab: semakin menua, kulit
akan kehilangan kemampuan menghasilkan vitamin D dan aktivitas luar rumah yang
kurang, bahkan dalam keadaan tertentu seseorang justru menggunakan tabir surya
dengan SPF rendah 8 yang mampu mengurangi produksi vitamin D hingga 95% (National Osteoporosis Foundation
2018).
Makanan
Vitamin D sangat
sulit diperoleh hanya dari makanan. Kebanyakan perlu mengonsumsi suplemen agar
memperoleh kecukupannya sehingga mendukung kesehatan tulang. Pada label makanan
yang ditambahkan vitamin D, satu porsi susu delapan ons memiliki 25% dari nilai
harian (DV) vitamin D. DV berdasar pada total asupan harian 400 IU vitamin D.
Maka dapat disimpulkan dalam satu porsi susu sebesar 25% DV vitamin D
mengandung 100 UI (National Osteoporosis Foundation 2018).
Sedangkan
beberapa sumber lain menunjukkan sumber vitamin D yang diantaranya: menurut
Barasi (2007) sumber dari makanan menjadi sangat penting bila paparan sinar UV
terbatas. Contoh bahan makanannya seperti ikan berlemak dan minyak ikan, hati,
telur, susu, dan produk olahan daging. Sedangkan produk yang difortifikasi
antara lain margarin, sereal untuk sarapan, minuman yang berasal dari susu, dan
makanan bayi.
Menurut Harold
(2007) sumber vitamin D pada makanan yaitu kuning telur, sereal yang diperkaya
nutrien, susu yang diperkaya nutrien, hati, dan ikan yang memiliki lemak yang
tinggi. Menurut Kartasapoetra dan Marsetyo (2004) kekurangan vitamin D dalam
tubuh dapat menimbulkan beberapa gangguan pada tubuh di antaranya:
1. Timbulnya
penyakit rakhitis
2. Gangguan
pada pertukaran zat kapur dan fosfor
3.
Gangguan pada sistem pertulangan
Menurut Pusparini
(2014) sumber vitamin D yang berasal dari makanan dibedakan menjadi beberapa
jenis antara lain yang berasal dari sumber asli, vitamin D air susu, makanan
yang diperkuat dan suplemen. Sumber vitamin D yang berasal dari makanan antara
lain ikan yang berminyak seperti salmon, ikan kembung (mackerell), ikan sardin, hati, dan kuning telur.
Daftar Pustaka
Almatsier,
S.( 2002). Prinsip dasar ilmu gizi.
Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Barasi, ME.( 2007). Nutrition at a Glance. Blackwell Publishing Ltd.
Hardinsyah dan
Supariasa, I.D.N.(2016). Ilmu gizi: Teori
dan Aplikasi. Jakarta: EGC.
Harold, N. (2007). Buku Saku Nutrisi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Holick, M. F. (2009). Vitamin d status: measurement,
interpretation and clinical application. Annals of Epidemiology. 19
(2), 73–78.
Kartasapoetra G,
Marsetyo H. (2004). Ilmu Gizi. Jakarta:
PT Rineka Cipta.
Makayadhaha, W. D. 2017. Gambaran interpretasi hasil vitamin d 25-oh total pada pasien di
prodia salatiga. Skripsi Diploma, Universitas Muhammadiyah
Semarang.
Mubarokah. (2008). Hubungan antara tingkat
pendidikan dan pengetahuan ibu dari anak taman kanak-kanak terhadap pemilihan
multivitamin di kecamatan wonosari kabupaten klaten. Skripsi Sarjana Farmasi.
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
National Center for Biotechnology
Information.(2004). PubChem Compound Database; CID=5280795. Diakses pada 23
Maret 2018. Tersedia di http://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/5280795
National Osteoporosis Foundation. (2018).
Kalsium/Vitamin D. Diakses pada 23 Maret 2018.
Pusparini.(2014). Defisiensi Vitamin D
terhadap Penyakit. Indonesian Journal of
Clinical Pathology and Medical Laboratory. 21 (1): 90-95.
Salim, M.N.(2014). Struktur mikroskopik ginjal dengan pemberian vitamin d3 pada tikus
ovarektomi. Jurnal Ilmiah Peternakan. 2 (1): 5-10.
Sumardjo, D.(2008). Pengantar kimia: buku
panduan kuliah mahasiswa kedokteran dan program strata I fakultas bioeksakta.
Jakarta: EGC.
Widyaswari, M.S.(2016).
Kadar serum vitamin d pada pasien dermatitis atopik. Diakses pada 7
April 2018.
Winarno, F.G. (2014). Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia.
Penulis : Yohanes Wisnu Bayu Prayogo

Komentar