Merokok Membuat Keluarga Sakit
Merokok Membuat Keluarga Sakit
PENDAHULUAN
Merokok
merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Meski
masyarakat tahu, tidak sedikit dari mereka mengabaikan bahaya merokok. Dampak
dari merokok itu sendiri bukan hanya bagi orang yang merokok secara langsung, tetapi
juga orang-orang di sekitarnya yang juga menghirup udara di sekitar perokok
atau disebut perokok pasif. Akibatnya, kerugian yang disebabkan oleh asap rokok
hampir tidak diketahui oleh perokok pasif ini. Akibatnya, banyak orang tak
berdosa merasakan efek negatif dari rokok ini. Dalam rokok ada banyak bahan
kimia yang sangat berbahaya selain nikotin dan Tar.
Penyakit
akut yang dapat menyebabkan kematian pada anak balita di berbagai negara
berkembang termasuk Indonesia. ISPA dan Pneumonia adalah infeksi saluran
pernapasan atas dan bawah akut yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme atau
bakteri, virus, atau reketsia tanpa atau disertai dengan peradangan. Menurut data yang diperoleh dari WHO pada tahun 2012, ISPA
atau pneumonia adalah penyakit yang paling sering diderita oleh balita
(WHO.2012).
Pada
anak-anak, semua aspek perkembangan anak mengalami kemajuan yang sangat cepat.
Aspek perkembangan yang ada pada anak usia dini meliputi aspek intelektual,
fisik, sosial-emosional, bahasa, moral dan aspek keagamaan. Faktor lingkungan
adalah cara belajar balita dalam pengembangan karakter alami dengan kata lain
proses belajar secara otomatis. Oleh karena itu, lingkungan mempengaruhi
perkembangan sifat dan karakter mereka. Jika faktor genetik dan asupannya sudah
terpenuhi dengan baik tetapi hidup di lingkungan yang salah (tidak baik) itu
akan menghasilkan psikologi mental yang rusak (Zainul.2015).
Pada
kesempatan ini saya akan membahas tentang bahaya resiko asap rokok, kecukupan
status gizi anak,dan psikologi anak karena rokok. Melalui kajian ini
diharapkan, menjadi bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan pembaca
dan penulis.
PEMBAHASAN
A.
Asap
rokok
Paparan
perokok pasif dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan. Bayi dan anak-anak
yang terpapar asap rokok berisiko tinggi mengalami iritasi mata, alergi, asma,
bronkitis, pneumonia, meningitis, dan sindrom kematian bayi mendadak. Perlu di
ingat bahwa kondisi tubuh bayi dan anak-anak masih lemah dalam daya tahan.
Penting untuk diketahui bahwa asap rokok yang dihirup oleh anak secara lambat
akan merusak keseimbangan daya tahan tubuh. Pertama-tama, zat berbahaya dari
rokok merusak silia atau rambut halus yang berfungsi untuk menyaring benda
asing ke dalam tubuh. Bila sering terpapar asap rokok, fungsi silia dapat
terganggu. Cilia berbentuk seperti sapu. Ketika tidak berfungsi, itu akan
menyebabkan benda asing masuk dan menyebabkan dahak menumpuk sehingga anak
batuk, menurut Dr.Hafiz Abu Bakar, SPA, balita yang sering terpapar asap rokok
berisiko tinggi terkena pneumonia (Fitria.2019). Asap rokok adalah penyumbang
terbesar bagi balita yang rentan terhadap pneumonia. Perokok pasif akan
mengalami gejala seperti pembentukan lendir yang berlebihan di saluran udara,
batuk, iritasi paru-paru, nyeri dada dan tidak ada rasa tidak nyaman di dada.
Berbagai macam penyakit akibat asap rokok sangat berbahaya bagi anak balita.
B.
Penyakit
dari asap rokok
Namun
seperti diketahui, sistem imun pada bayi atau balita belum sepenuhnya
terbentuk. Oleh karena itu, bayi akan lebih rentan terhadap infeksi, hal ini
ditegaskan oleh hasil penelitian Rusepno (2005) yang mengatakan bahwa nutrisi
dan infeksi adalah faktor efek yang menyebabkan nafsu makan berkurang karena
rokok yang mengandung nikotin dan karbon monoksida juga terbuang bersama
perokok menyebabkan balita. terkena penyakit, terutama pneumonia. Selain itu,
nikotin akan menyebabkan kontraksi dalam darah ke seluruh tubuh dan akan
mengganggu sel-sel darah yang membawa asupan nutrisi ke seluruh tubuh.
Sedangkan monoksida akan berikatan dengan hemoglobin dalam darah yang dapat
menyebabkan distribusi nutrisi dan oksigen akan terganggu (Karami.2017). Maka
dari itu asap rokok terbukti mempengaruhi status gizi anak, karena di sisi lain
anak akan terpengaruh oleh penyakit seperti pneumonia dan juga akan dipengaruhi
oleh kandungan nikotin dan tar yang membuat anak tidak bisa makan dan pada
akhirnya akan sakit dan akan mempengaruhi status gizinya.
C.
Resiko
status gizi anak karena asap rokok
Dalam
perkembangannya, berdasarkan kualitas hubungan anak dengan pengasuh akan
mengembangkan mentalitas yang dikenal sebagai model kerja internal. Cara kerja
ini adalah keterampilan anak yang melihat dirinya dan orang lain (orang tua)
sebagai dasar untuk keterampilan dan panutannya (Zainul.2015). Dengan demikian
model kerja internal yang terkait dengan kelekatan relatif stabil saat berjalan
atau bagi Anda yang memiliki kebiasaan merokok, Anda tidak boleh merokok di
depan anak-anak. Karena bernafas pada anak yang tidak baik juga dapat
menimbulkan rasa ingin tahu pada anak tentang merokok (Saskia, D.P.2011). Jadi
dia ingin mencoba, dan lamanya waktu bisa menjadi kebiasaan buruk yang tidak
bisa dihindari. Ketika dia dilarang, anak itu mungkin menjawab bahwa ayah / ibu
juga merokok, mengapa saya tidak diizinkan. Dan saat itulah anak-anak secara
mental terganggu.
PENUTUP
KESIMPULAN
Jadi,
orang tua atau perokok yang lain tidak diperbolehkan merokok di dekat anak-anak
karena asap rokok mengandung monoksida, nikotin, dan zat lain yang berbahaya
dan dapat mengganggu status gizi anak-anak karena, dari merokok anak akan
mendapat masalah pernapasan, akhirnya sakit dan menurun nafsu makan, dan
kebiasaan merokok orang tua dapat memicu rasa ingin tahu anak-anak dan mengganggu
psikologi mereka dan akhirnya anak-anak akan mencoba merokok.
Daftar Pustaka
Fitria.(2019). “Dampak Kesehatan Anak Pada Periode Embrio,Janin,Bayi dan Usia Sekolah dengan Ayah Perokok”. Jurnal
Kesehatan Vokasional,4(01):1-12. [Online].
Tersedia di jurnal.ugm.ac.id/jkesvo/article/download/41777/23849. Diakses pada tanggal
1 November 2019.
Karami.(2017). “Sosial Campigen about the Danger of Cigarette Smoker Owards
Toddler (FOR FATHER WHO WAS ACTIVE
SMOKER) ”.Jurnal Ilmiah,4(3):1-7. [Online].
Tersedia di file:///tmp/17.04.2111_jurnal_eproc.pdf. Di akses pada tanggal 1 November 2019.
Saskia.DP.(2011). “Association Between paternal Smoking
and Nutritional Status of Under-five
Children”. Tersedia di https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20961329. Di akses pada tanggal 2 November 2019.
Zainul.(2015).Children
Psycholog.Yogyakarta:Gramedia Pustaka.
sheets/detail/tobacco.
Di akses pada tanggal 2 November 2019.
Penulis: Yohanes Wisnu Bayu Prayogo
Penulis: Yohanes Wisnu Bayu Prayogo

Komentar