LEUKIMIA
LEUKEMIA
2.1 DEFINISI
Leukemia adalah proliferasi sel darah putih yang masih imatur dalam
jaringan pembentuk darah.
Leukemia adalah proliferasi tak teratur atau akumulasi sel darah putih
dalam sum-sum
tulang menggantikan elemen sum-sum tulang normal.
tulang menggantikan elemen sum-sum tulang normal.
Leukemia adalah suatu keganasan pada alat pembuat sel darah berupa
proliferasio
patologis sel hemopoetik muda yang ditandai oleh adanya kegagalan sum-sum tulang
dalam membentuk sel darah normal dan adanya infiltrasi ke jaringan tubuh yang lain.
patologis sel hemopoetik muda yang ditandai oleh adanya kegagalan sum-sum tulang
dalam membentuk sel darah normal dan adanya infiltrasi ke jaringan tubuh yang lain.
Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah
dalam sumsum tulang dan limfa nadi
Sifat khas leukemia adalah proliferasi tidak teratur atau akumulasi sel
darah putih dalam sumusm tulang, menggantikan elemen sumsum tulang normal. Juga
terjadi proliferasi di hati, limpa dan nodus limfatikus, dan invasi organ non
hematologis, seperti meninges, traktus gastrointesinal, ginjal dan kulit.
Berdasarkan dari beberapa pengertian diatas maka penulis berpendapat bahwa
leukemia adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh proliferasi abnormal dari
sel-sel leukosit yang menyebabkan terjadinya kanker pada alat pembentuk darah.
2.2 ETIOLOGI
Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor
predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia, yaitu :
Genetik
Adanya Penyimpangan Kromosom Insidensi leukemia meningkat pada penderita kelainan kongenital, diantaranya pada sindroma Down, sindroma Bloom, Fanconi’s Anemia, sindroma Wiskott-Aldrich, sindroma Ellis van Creveld, sindroma Kleinfelter, D-Trisomy sindrome, sindroma von Reckinghausen, dan neurofibromatosis. Kelainan-kelainan kongenital ini dikaitkan erat dengan adanya perubahan informasi gen, misal pada kromosom 21 atau C-group Trisomy, atau pola kromosom yang tidak stabil, seperti pada aneuploidy.
Adanya Penyimpangan Kromosom Insidensi leukemia meningkat pada penderita kelainan kongenital, diantaranya pada sindroma Down, sindroma Bloom, Fanconi’s Anemia, sindroma Wiskott-Aldrich, sindroma Ellis van Creveld, sindroma Kleinfelter, D-Trisomy sindrome, sindroma von Reckinghausen, dan neurofibromatosis. Kelainan-kelainan kongenital ini dikaitkan erat dengan adanya perubahan informasi gen, misal pada kromosom 21 atau C-group Trisomy, atau pola kromosom yang tidak stabil, seperti pada aneuploidy.
2 Saudara kandung
Dilaporkan adanya
resiko leukemia akut yang tinggi pada kembar identik dimana kasus-kasus
leukemia akut terjadi pada tahun pertama kelahiran . Hal ini berlaku juga pada
keluarga dengan insidensi leukemia yang sangat tinggi) .
Faktor Lingkungan
Beberapa faktor
lingkungan di ketahui dapat menyebabkan kerusakan kromosom dapatan, misal :
radiasi, bahan kimia, dan obat-obatan yang dihubungkan dengan insiden yang
meningkat pada leukemia akut.
Virus
Dalam banyak percobaan
telah didapatkan fakta bahwa RNA virus menyebabkan leukemia pada hewan termasuk
primata . Penelitian pada manusia menemukan adanya RNA dependent DNA polimerase
pada sel-sel leukemia tapi tidak ditemukan pada sel-sel normal dan enzim ini
berasal dari virus tipe C yang merupakan virus RNA yang menyebabkan leukemia
pada hewan. Salah satu virus yang terbukti dapat menyebabkan leukemia pada
manusia adalah Human T-Cell Leukemia . Jenis leukemia yang ditimbulkan adalah
Acute T- Cell Leukemia .
Bahan Kimia dan Obat-obatan
Paparan kromis dari
bahan kimia ( misal : benzen ) dihubungkan dengan peningkatan insidensi
leukemia akut, misal pada tukang sepatu yang sering terpapar benzen.
Obat-obatan
Obat-obatan anti neoplastik ( misal : alkilator dan inhibitor topoisomere II ) dapat mengakibatkan penyimpangan kromosom yang menyebabkan AML . Kloramfenikol, fenilbutazon, dan methoxypsoralen dilaporkan menyebabkan kegagalan sumsum tulang yang lambat laun menjadi AML
Obat-obatan anti neoplastik ( misal : alkilator dan inhibitor topoisomere II ) dapat mengakibatkan penyimpangan kromosom yang menyebabkan AML . Kloramfenikol, fenilbutazon, dan methoxypsoralen dilaporkan menyebabkan kegagalan sumsum tulang yang lambat laun menjadi AML
Radiasi
Hubungan yang erat
antara radiasi dan leukemia ( ANLL ) ditemukan pada pasien-pasien anxylosing
spondilitis yang mendapat terapi radiasi, dan pada kasus lain seperti
peningkatan insidensi leukemia pada penduduk Jepang yang selamat dari ledakan
bom atom. Peningkatan resiko leukemia ditemui juga pada pasien yang mendapat
terapi radiasi misal : pembesaran thymic, para pekerja yang terekspos radiasi
dan para radiologis.
Leukemia Sekunder
Leukemia yang terjadi
setelah perawatan atas penyakit malignansi lain disebut Secondary Acute
Leukemia ( SAL ) atau treatment related leukemia . Termasuk diantaranya
penyakit Hodgin, limphoma, myeloma, dan kanker payudara . Hal ini disebabkan
karena obat-obatan yang digunakan termasuk golongan imunosupresif selain
menyebabkan dapat menyebabkan kerusakan DNA . Leukemia biasanya mengenai
sel-sel darah putih. Penyebab dari sebagian besar jenis leukemia tidak
diketahui. Pemaparan terhadap penyinaran (radiasi) dan bahan kimia tertentu
(misalnya benzena) dan pemakaian obat antikanker, meningkatkan resiko
terjadinya leukemia. Orang yang memiliki kelainan genetik tertentu (misalnya
sindroma Down dan sindroma Fanconi), juga lebih peka terhadap leukemia.
2.3 KLASIFIKASI
1. Leukemia
akut
Berdasarkan klasifikasi French American British ( FAB ), leukemia akut
terbagi menjadi 2 ( dua ), Acute Limphocytic Leukemia ( ALL ) dan Acute
Myelogenous Leukemia (AML). Sedangkan Leukemia Kronis jg dibagimmnjadi 2 yaitu
Leukemia Mielogenus Kronis (CML) dan Leukemia Limfositik Kronis (CLL).
Luekemia Limfositik Akut (ALL) dianggap sebagai proliferasi ganas
limfoblast. Sering terjadi pada anak-anak, laki-laki lebih banyak dibanding
perempuan, puncak insiden usia 4 tahun, setelah usia 15 ALL jarang terjadi.
Manifestasi limfosit immatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan
perifer, sehingga mengganggu perkembangan sel normal..
Acute Limphocytic Leukemia (ALL) sendiri terbagi menjadi 3, yakni :
Acute Limphocytic Leukemia (ALL) sendiri terbagi menjadi 3, yakni :
L1
Sel-sel leukemia terdiri
dari limfoblas yang homogen dan L1 ini banyak menyerang anak.
L2
Terdiri dari sel sel
limfoblas yang lebih heterogen bila dibandingkan dengan L1. ALL jenis ini
sering diderita oleh orang dewasa.
L3
Terdiri dari limfoblas
yang homogen, dengan karakteristik berupa sel Burkitt. Terjadi baik pada orang
dewasa maupun anak-anak dengan prognosis yang buruk
Leukemia Mielogenus Akut (AML) mengenai sel stem hematopeotik yang kelak
berdiferensiasi ke semua sel Mieloid: monosit, granulosit, eritrosit, eritrosit
dan trombosit. Semua kelompok usia dapat terkena; insidensi meningkat sesuai
bertambahnya usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang paling sering terjadi.
2. Leukemia kronis
1) Leukemia
Mielogenus Kronis (CML) terbagi menjadi 8 tipe :
Mo ( Acute
Undifferentiated Leukemia )
Merupakan bentuk
paling tidak matang dari AML, yang juga disebut sebagai AML dengan diferensiasi
minimal .
M1 ( Acute
Myeloid Leukemia tanpa maturasi )
Merupakan leukemia
mieloblastik klasik yang terjadi hampir seperempat dari kasus AML. Pada AML
jenis ini terdapat gambaran azurophilic granules dan Auer rods. Dan sel
leukemik dibedakan menjadi 2 tipe, tipe 1 tanpa granula dan tipe 2 dengan
granula, dimana tipe 1 dominan di M1 .
M2 ( Akut Myeloid
Leukemia )
Sel leukemik pada M2
memperlihatkan kematangan yang secara morfologi berbeda, dengan jumlah
granulosit dari promielosit yang berubah menjadi granulosit matang berjumlah
lebih dari 10 % . Jumlah sel leukemik antara 30 – 90 %. Tapi lebih dari 50 %
dari jumlah sel-sel sumsum tulang di M2 adalah mielosit dan promielosit .
M3 ( Acute
Promyelocitic Leukemia )
Sel leukemia pada M3
kebanyakan adalah promielosit dengan granulasi berat, stain mieloperoksidase +
yang kuat. Nukleus bervariasi dalam bentuk maupun ukuran, kadang-kadang
berlobul . Sitoplasma mengandung granula besar, dan beberapa promielosit
mengandung granula berbentuk seperti debu . Adanya Disseminated Intravaskular
Coagulation ( DIC ) dihubungkan dengan granula-granula abnormal ini.
M4 ( Acute
Myelomonocytic Leukemia )
Terlihat 2 ( dua )
type sel, yakni granulositik dan monositik , serta sel-sel leukemik lebih dari
30 % dari sel yang bukan eritroit. M4 mirip dengan M1, dibedakan dengan cara
20% dari sel yang bukan eritroit adalah sel pada jalur monositik, dengan
tahapan maturasi yang berbeda-beda.
Jumlah monosit pada
darah tepi lebih dari 5000 /uL. Tanda lain dari M4 adalah peningkatan proporsi
dari eosinofil di sumsum tulang, lebih dari 5% darisel yang bukan eritroit,
disebut dengan M4 dengan eoshinophilia. Pasien–pasien dengan AML type M4
mempunyai respon terhadap kemoterapi-induksi standar.
M5 ( Acute
Monocytic Leukemia )
Pada M5 terdapat lebih
dari 80% dari sel yang bukan eritroit adalah monoblas, promonosit, dan monosit.
Terbagi menjadi dua, M5a dimana sel monosit dominan adalah monoblas, sedang
pada M5b adalah promonosit dan monosit. M5a jarang terjadi dan hasil
perawatannya cukup baik.
M6 ( Erythroleukemia
)
Sumsum tulang terdiri
lebih dari 50% eritroblas dengan derajat berbeda dari gambaran morfologi
Bizzare. Eritroblas ini mempunyai gambaran morfologi abnormal berupa bentuk
multinukleat yang raksasa. Perubahan megaloblastik ini terkait dengan maturasi
yang tidak sejalan antara nukleus dan sitoplasma . M6 disebut Myelodisplastic
Syndrome ( MDS ) jika sel leukemik kurang dari 30% dari sel yang bukan eritroit
. M6 jarang terjadi dan biasanya kambuhan terhadap kemoterapi-induksi standar .
M7 ( Acute
Megakaryocytic Leukemia )
Beberapa sel tampak
berbentuk promegakariosit/megakariosit. ( Yoshida, 1998; Wetzler dan
Bloomfield, 1998 ).
Leukemia Mielogenus Kronis (CML) juga dimasukkan dalam sistem keganasan sel
sistem mieloid. Namun lebih banyak sel normal dibanding bentuk akut, sehingga
penyakit ini lebih ringan. CML jarang menyerang individu di bawah 20 tahun.
Manifestasi mirip dengan gambaran AML tetapi tanda dan gejala lebih ringan,
pasien menunjukkan tanpa gejala selama bertahun-tahun, peningkatan leukosit
kadang sampai jumlah yang luar biasa, limpa membesar.
2) Leukemia Limfositik
Kronis (CLL)
Leukemia Limfositik Kronis (CLL) merupakan kelainan ringan mengenai
individu usia 50 sampai 70 tahun. Manifestasi klinis pasien tidak menunjukkan
gejala, baru terdiagnosa saat pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit lain.
2.4 PATOFISIOLOGI
Manifestasi klinis penderita leukemia akut disebabkan adanya penggantian
sel pada sumsum tulang oleh sel leukemik , menyebabkan gangguan produksi sel
darah merah . Depresi produksi platelet yang menyebabkan purpura dan
kecenderungan terjadinya perdarahan . Kegagalan mekanisme pertahanan selular
karena penggantian sel darah putih oleh sel lekemik, yang menyebabkan tingginya
kemungkinan untuk infeksi .
Infiltrasi sel-sel leukemik ke organ-organ vital seperti liver dan
limpa oleh sel-sel leukemik yang dapat menyebabkan pembesaran dari organ-organ
tersebut .
Sedangkan pada penderita Leukemia itu sebdiri disebabkan sbb:
Sedangkan pada penderita Leukemia itu sebdiri disebabkan sbb:
Normalnya tulang
marrow diganti dengan tumor yang malignan, imaturnya sel blast.Adanya
proliferasi sel blast, produksi eritrosit dan platelet terganggu sehingga akan
menimbulkan anemia dan trombositipenia.
Sistem
retikuloendotelial akan terpengaruh dan menyebabkan gangguan sistem
pertahanan tubuh dan mudah mengalami infeksi.
pertahanan tubuh dan mudah mengalami infeksi.
Manifestasi akan
tampak pada gambaran gagalnya bone marrow dan infiltrasi organ, sistem saraf
pusat. Gangguan pada nutrisi dan metabolisme. Depresi sumsum tulang yang akan
berdampak pada penurunan lekosit, eritrosit, faktor pembekuan dan peningkatan
tekanan jaringan.
Adanya infiltrasi
pada ekstra medular akan berakibat terjadinya pembesaran hati, limfe,nodus
limfe, dan nyeri persendian.
2.5 MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinik
yang sering dijumpai pada penyakit leukemia adalah sebagai berikut:
1.Pilek tidak sembuh-sembuh& sakit kepala.
2.Pucat, lesu, mudah terstimulasi, Merasa lemah atau letih.
3.Demam, keringat malam dan anorexia
4.Berat badan menurun
5. Ptechiae, memar tanpa sebab, Mudah berdarah dan
lebam (gusi berdarah, bercak
6.keunguan di
kulit, atau bintik-bintik merah kecil di bawah kulit)
7.Nyeri pada tulang dan persendian
8.Nyeri abdomen, Pembengkakan atau rasa tidak nyaman di perut
(akibat pembesaran limpa). 2.6 INSIDEN
ALL (Acute Lymphoid Leukemia) adalah insiden paling tinggi terjadi pada
anak-anak yang berusia antara 3 dan 5 tahun. Anak perempuan menunjukkan
prognosis yang lebih baik daripada anak laki-laki. Anak kulit hitam mempunyai
frekuensi remisi yang lebih sedikit dan angka kelangsungan hidup (survival
rate) rata-rata yang juga lebih rendah. ANLL (Acute Nonlymphoid Leukemia)
mencakup 15% sampai 25% kasus leukemia pada anak. Resiko terkena penyakit ini
meningkat pada anak yang mempunyai kelainan kromosom bawaan seperti Sindrom
Down. Lebih sulit dari ALL dalam hal menginduksi remisi (angka remisi 70%).
Remisinya lebih singkat pada anak-anak dengan ALL. Lima puluh persen anak yang
mengalami pencangkokan sumsum tulang memiliki remisi berkepanjangan.
Penulis:Yohanes Wisnu Bayu Prayogo
Daftar
Pustaka
Alfian. (2014). Leukemia Mengintai Anak.
Daniel,E.(2011).Leukimia:Curet
and emerging trend in detection and treatmen.penerbit:The Rosen Publishing Group Inc.Di akses pada tanggal 23
september 2019. Tersedia di Siagian, Albiner. 2010.
Epidemiologi Gizi. Jakarta : Penerbit Erlangga
Devi,
Nirmala. 2012. Gizi Anak Sekolah. Jakarta
Klosterman.(2009).LEUKIMIA.masrshal
cavandish.
Potter, Perry. (2010). Fundamental Of
Nursing. Edisi 4. Volume 1. Jakarta: EGC.
JANGAN LUPA DI SHARE,SEMOGA BERMANFAAT UNTUK TEMAN" SEKALIAN.
KRITIK DAN SARAN DARI TEMAN -TEMAN SEMUA SANGAT BERGUNA UNTUK PERKEMBANGAN BLOGGER SAYA. TERIMAKASIH


Komentar